Perempuan yang memilih hidup dengan mimpinya

Menjadi perempuan di era modern yang hidup dengan banyak tuntutan zaman, sosial, keluarga bahkan diri sendiri itu tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa kan? Memilih untuk bermimpi besar harus dibayar dengan perjuangan yang berdarah-darah. Dalam hidup selalu ada pilihan-pilihan yang harus kita relakan. 

Delapan tahun bukan waktu yang sebentar saya membersamai seseorang tumbuh. Menemani masa susahnya, merawat ketika dia sakit, menerima segala kurang dalam dirinya tidak membuat saya cukup untuk dipilih. Waktu yang panjang itu pada akhirnya mengajarkan saya kerelaan melepas, melepas apa yang selama ini menyakiti saya. Dalam keadaan saya membersamai seseorang, saya tidak pernah berhenti untuk mencintai diri saya sendiri. Tidak mudah membersamai seseorang yang dengan saya dia tidak cukup bersyukur. Terkesan malang nian hidup perempuan seperti saya, tapi saya yakin dalam hati saya apa yang saya lakukan bukan untuk dia tapi untuk diri saya sendiri. Kebaikan yang kita berikan kepada orang lain tidak akan pernah kembali dengan tangan kosong, meski bukan dari dia tapi mungkin dari semesta.

Di delapan tahun bersama, saya yakin tidak mudah juga bagi dia membersamai perempuan seperti saya. Perempuan dengan banyak mimpi dan cita-cita yang besar, perempuan dengan ambisi, perempuan dengan tekad yang kuat. Itu yang membuatnya ragu terhadap saya, ragu karena visi dan tujuan hidup kami sangat berbeda jauh. Saya yang ingin hidup dengan maksimal yang saya bisa, dengan mimpi-mimpi yang tinggi dan kenyamanan yang saya rasakan untuk anak keturunan saya, sedangkan dia yang sudah cukup nyaman dengan hidup dan bekerja. Bahkan ketika obrolan tentang mimpipun dia tidak punya.

Delapan tahun saya bertahan dengan seseorang yang hidupnya stuck disitu-situ saja. Sejak saat itu saya sadar bahwa saya tidak bisa menariknya untuk berada dilevel yang sama seperti saya sekuat apapun usaha saya, tapi dirinya sendiri yang harus memiliki keinginan untuk tumbuh. dan pada akhirnya semua yang saya upayakan untuk mencapai mimpi-mimpi saya selalu dibunuh dengan ucapannya bahwa saya terlalu egois mengejar mimpi saya. Upaya terbaik yang saya lakukan untuk diri saya selalu dipandang sebelah mata oleh dia dan keluarganya. Dia dan keluarganya selalu bilang kalau saya tidak akan menghargai dan menghormati dia karna pendidikan saya lebih tinggi darinya. Sampai pada titik saya bingung, bagian mana dari saya yang tidak menghormati dia, saya menerima dan menemaninya ketika dia ada dibawah tanpa mengeluhkan apapun. Saya juga tetap berproses tapi yang mereka inginkan adalah seorang perempuan yang tidak lebih dari laki-laki. Lalu saya harus bertaruh menurunkan standar saya hanya untuk memberi makan ego dia dan keluarganya yang tersakiti karena pendidikan dan pekerjaan saya? 

Lalu selang berjalan dia melamar saya, dengan pernuh keraguan saya menerima lamarannya tanpa banyak pertimbangan meskipun dengan banyak keraguan. Saya menerimanya hanya karena dia sudah lama bersama saya. Perempuan dengan pendidikan tinggi dan kecerdasan yang mumpuni akan hilang akal ketika menghadapi perasaannya sendiri, dan itu terjadi dalam hidup saya. Selama pertunangan dan mempersiapkan pernikahan ternyata dia memiliki perempuan lain dalam hidupnya yang berada didekatnya. Saya paham betul konsekuensi hubungan jarak jauh yang saya jalani bersama dia, tapi saya pikir dengan saya menjaga diri saya semua akan baik-baik saja. Tapi ternyata ga semua orang memiliki kemampuan akal dan etika yang baik dalam menjalin hubungan. Perselingkuhannya saya ketahui setelah kami memutuskan untuk putus dan tidak melanjutkan pertunangan ini. Dia memilih perempuan itu. Dan pada akhirnya saya tau, yang dia butuhkan adalah perempuan yang standarnya berada dibawahnya yang bisa terus menerus memberi makan egonya dan nurut ketika tidak diperbolehkan bermimpi.

Empat hari lagi menuju pernikahannya, tapi saya disini dengan kesadaran penuh bersyukur karna memilih cita-cita saya dibanding harus memilih dia. Saya memilih bermimpi besar dan mewujudkannya dari pada harus menguburnya dalam-dalam. Apabila saya memilih sebaliknya, saya tidak tau akan sebesar apa penyesalan saya nantinya. Dia akhirnya menikah dan saya bahagia dengan semua mimpi saya yang terwujud satu persatu.

Saya ikhlas atas semua rasa sakit yang saya terima, karena ternyata Tuhan menggantinya berkali-kali lipat dengan semua yang saya punya hari ini. Saya akan terus memperjuangkan semua impian saya meskipun harus menangis untuk mendapatkannya. Saya tau bahwa apa yang saya dapatkan saat ini adalah doa-doa kecil yang saya panjatkan berulang-ulang kemarin. Apa yang saya dapatkan saat ini adalah usaha yang saya perjuangkan melalui jalan panjang. Tanpa penyesalan sedikitpun, saya ikhlas atas apa yang saya terima hingga saat ini.

Jika kamu perempuan sedang dalam fase kebingungan menentukan pilihan, pertama yang harus kamu lakukan adalah pilihlah dirimu sendiri. Meskipun sakit diawal tapi suatu saat kamu akan bersyukur karena kamu telah memilih dirimu dibanding orang lain. Apa yang menjadi mimpimu tidak akan terwujud tanpa kerelaanmu memperjuangkannya.

Jangan takut dibilang telat menikah dari pada harus menikah dengan orang yang salah.