KENANGAN DALAM SENJA



Semalam hingga subuh tadi aku tetap terjaga dari tidurku. Ada apa dengan diriku. Akupun tak tau. Pagi ini hujan menyambut hariku, ia seolah tau bahwa ku hanya ingin diam duduk diantara rindu dan sepi. Tidak ada dering yang ku dengar dari ponsel ku. Teringat kembali ketika ku berbagi derai tawa dengannya. Tak ada kenangan terindah selain ketika ku berdua bersamanya. Air mata ku menganak sungai dipipiku, tak tertahan rasa rindu ini. Kini tiba saatnya aku harus menapakkan kakiku di tempat asing yang tak ku kenali sebelumnya, bertatap dengan orang-orang asing yang mempertanyakan siapa aku dan mau apa aku.
Dengan diiringi oleh kedua orang tua ku, aku menuju sebuah ruangan. Ruangan ini cukup mengerikan bagiku. Sudah terdapat banyak alat-alat di ruangan itu. Aku segera memasuki ruangan itu dengan rasa khawatir yang mendalam. Yang terfikir dalam benakku hanya dia. Apakah dua jam kemudian aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya atau mungkin hanya sebuah harapan palsu dan aku hanya bisa melihatnya dari atas sana. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus ku perbuat. Dalam keadaan menunggu dan terbaring, akhirnya seseorang laki-laki yang cukup berumur memasuki ruangan ku bersama kedua perempuan yang mengikutinya dengan membawa papan. Entah apa yang tercatat disana. Kini kembali ku rasakan air mataku mengalir. Mungkin kau bertanya siapa dan seperti apa keadaanku. Kau tau aku sedang berada diruang operasi. Mungkin kau akan bertanya untuk apa kepindahanku kesini ? ya hanya untuk mengobati ku. Membuang penyakit yang aku derita. Derai air mata terus mengalir dipipiku. Dan ketika itu dokter bertanya “kamu baik-baik saja ?” aku hanya dapat menjawab dengan anggukan lemah. Kemudian dokter itu berkata lagi “kamu akan baik-baik saja. Kami akan melakukannya semaksimal mungkin untuk kesembuhan kamu.”
Dan lagi – lagi aku hanya dapat tersenyum. Setelah dokter berbincang-bincang dengan ku, dokter segera berbicara dengan kedua orang tuaku. Entah apa yang mereka bicarakan tapi setelah itu kedua orang tuaku, melihat dan menatapku. Seolah berkata bahwa aku tak perlu khawatir. Aku hanya tersenyum, karna hanya itu yang bisa ku lakukan tersenyum dan menangis. Sebelum masuk ruangan ini, aku minta kepada kakak ku untuk menanyakan kabar dia yang berada jauh disana. Kakak ku menyanggupinya. Kini mereka tengah bercengkram diantara sms-sms itu. Sebelum operasi dilakukan, kakak ku memasuki ruangan untuk bertemu denganku. Dia menangis dan berkata kepada ku
“dia lagi disekolah dan dia baik-baik aja. Dia nanya kabarmu dan kakak jawab sesuai apa yang kamu katakan.”
Dengan keadaan lemah aku hanya dapat menjawab “terima kasih kak”
“kamu cepet sembuh nanti kita temui dia. Janji sama kakak kamu pasti sembuh.” Dengan isak tangis hanya itu yang dia katakan
Dan jawabanku hanya tangisan. Ketika itu dokter menyuruh kakak ku keluar. Ketika itu operasi dimulai. Bius telah disuntikan kedalam tubuhku dan lambat laun aku tertidur. Dalam tidur ku, aku bermimpi. Tapi yang ku lihat dalam mimpiku hanya ada cahaya putih. Dan disitu hanya ada diriku mengenakan baju putih dan kerudung putih. Ada dua pintu diantara ujung yang ku pandang. Dan ketika itu ku lihat ada seseorang yang kurasa aku mengenalinya. Setelah aku mendekat padanya, itu ternyata dia mengenakan baju hitam-hitam dan tengah meringuk dalam tangisnya. Aku bertanya kepadanya tapi dia tak menjawabku. Dia terus menangis seolah hatinya sangat hancur. Dan ketika aku akan menyentuhnya dia menghilang. Aku sendiri sekarang, ditempat asing bagiku. Dan dari kejauhan aku melihatnya lagi memasuki pintu didepanku sebelum menghilang dia menoleh kepadaku. Entah karena apa aku berjalan menuju pintu yang berada dibelakang ku. Aku merasa sangat lelah sehingga berkali-kali aku berhenti untuk beristirahat. Untuk menuju pintu itu aku rasa sangat jauh, aku terus berjalan hingga aku tiba didepan pintu itu. Dan ketika akan ku buka pintu itu, aku melihat kedua orang tuaku dan kakak ku tersenyum ke arahku dengan mengenakan baju hitam-hitam, mereka berada jauh diseberang pintu. Dan tiba-tiba muncul seorang perempuan sangat cantik dan tersenyum kepadaku dan bertanya
“apakah kamu sudah siap ?”
Bukannya menjawab aku malah bertanya
“kenapa mereka semua mengenakan baju hitam dan hanya kita berdua yang mengenakan baju putih? Lalu kenapa mereka semua terlihat sedih ketika mereka tersenyum”
“ini jalan terbaik untuk mu. Mereka akan baik-baik saja disana. Ayo kita harus segera bergegas.”
Wanita cantik itu mengulurkan tangannya dan aku meraihnya. Dia menuntunku menuju kedalam pintu itu. Didalam terasa sangat sejuk dan menenangkan. Dan dia berkata lagi kepadaku
“sebelum kamu pergi jauh bersamaku, lebih baik kau temui mereka yang ingin kau temui.”
Aku hanya mengangguk dan dia mengantarku kepada orang tuaku. Aku tidak mengerti dirumah sakit kedua orang tuaku dan kakak ku menangis dan saling berpeluk. Kakak ku melihat kedalam ruangan operasi. Aku memanggil kakak ku untuk memberitaukan bahwa aku disini, tapi kakak ku tak melihatku. Aku bingung dan semakin bingung. Ada apa dengan ku. Dan ketika ku lihat kedalam ruang operasi aku melihat suster menutupkan kain putih keatas wajahku. Dan kini aku tau kenapa. Aku tersentak ketika melihat itu. Ternyata aku sudah tidak memiliki kesempatan untuk menemuinya. Aku menatap mereka iba. Aku hanya menangis melihat mereka seperti itu. Aku memeluk ibu ku, tapi ia tak bisa merasakannya. Dan ketika itu kakak cantik menjemputku dan dia berkata
“masih ada yang harus kau temui, dia telah lama menanti mu dengan cemas”
“ada apa denganku ? dan siapa yang telah menantiku ? apa Tuhan ?”
“bukan. Dia seseorang yang selama ini kau cintai dan hanya menjadi sahabatmu.”
“bawa kepadanya” dengan amarah bercampur tangis aku berkata seperti itu
Dan tak lama kakak cantik itu membawa ku menuju kota kecilku. Tak banyak yang berubah. Dia membawa ku ke sebuah taman.
“apa yang akan kita lakukan disini?”
“sebentar lagi kau akan melihatnya”
Tak lama kemudian dia yang selama ini menjadi bayang-bayang yang ku rindu datang ketaman itu membawa sebuah buku dan selembar foto. Setelah ku mendekat ternyata dia menangis dan ketika ku lihat itu adalah foto kami berdua terakhir ketika kami bertemu dan buku itu adalah buku harian ku yang aku kubur dihalaman belakang rumahku. Mengapa aku mengubur buku itu ? karena dalam buku itu tertulis dan tercurah semua perasaan ku tentangnya. Tapi aku bingung kenapa dia bisa mendapatkan buku itu. Tak lama dia berkata
“kenapa kamu pergi ninggalin aku? Aku belum bilang kalo aku sayang banget sama kamu. Dan kita memiliki perasaan yang sama. Kenapa kamu pergi begitu cepat. Dan kenapa kakak mu baru memberitaukan ku bahwa kamu sakit sekarang ? setelah kamu pergi? Kenapa hanya buku ini yang kamu tinggalkan untukku. Kenapa semua ini terjadi ?”
Dia menangis dan ketika itu aku hanya duduk terkulai lemas ditanah. Aku pun menangis. Aku sakit melihatnya seperti iini. Sakit melihat dia menderita karna ku. Sakit karna ku tak bisa lagi mengusap tangisnya. Dia terus menangis hingga dia lelah dan tertidur. Aku menemaninya hingga malam datang. Ku sentuh wajahnya, aku dapat merasakan sakit yang ia derita. Maafkan aku jika aku tak bisa lagi kembali ke sisi mu, maafkan aku jika aku tak pernah memberi mu kesempatan untuk mengungkapkan perasaan mu. Maafkan aku. Tak lama ia terbangun, melihat hari sudah petang dan ia berkata
“ aku harap bintang itu kamu dan aku harap kamu bahagia diatas sana zia. Selamat jalan aku akan selalu mengenangmu “ dan kemudian ia pergi meninggalkan taman itu.
Kakak cantik itu mengajakku untuk pergi, tapi aku memintanya untuk memberikan ku waktu. Tapi waktu ku sudah habis, aku hanya di izinkan melihat dia dirumah nya untuk terakhir kalinya.
Aku berjalan gontai menuju rumahnya. Dan ketika ada didepan rumahnya, aku melihat dia berada dibalkonnya sembari menatapi malam itu. Dengan terus menangis dan diam dalam hening. Ketika itu ponselnya berdering, dan ku lihat ternyata itu dari kakak ku. Dia mengangkat telepon itu, dan yang ku tangkap dari pembicaraan mereka, bahwa besok jenazah ku akan dibawa kembali ke tanah kelahiran ku.
Esoknya setelah pemakaman, kakak memberi dia sebuah gitar milikku yang sengaja aku titipkan ke kakak ku untuk diberikan kepadanya. Dalam hening dia menyanyikan sebuah lagu kenangan kita berdua di atas pusaraku. Menangis itu yang ku lihat ketika menatap senyumnya. Dalam hening aku dapat melihatnya dan dalam hening aku bisa merasakan cintanya.
“selamat jalan zia. Semoga semua kenangan kita akan tetap hidup bersama mu disana.”







2412

Popular posts from this blog

Perempuan yang memilih hidup dengan mimpinya